KPF BALI – 12/09/14

Laporan ECB yang rilis Kamis (11/9) ini memaparkan hasil rapat bulanan ECB yang terkait dengan putusan kebijakan moneter. Buletin yang membahas tentang analisis dari kondisi ekonomi sekarang ini mencermati tentang pertumbuhan ekonomi di Zona Euro yang terpuruk karena konflik Rusia-Ukraina. Ketegangan yang saat ini tengah bergejolak di Eropa Timur ditengarai sebagai faktor yang memberikan dampak buruk pada kegiatan perekonomian Zona Euro.

ecb flag dark
Terkait dengan analisa ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan moderat dalam kuartal kedua tahun ini, ECB memotong estimasi GDP dari 1.0% menjadi 0.9% dalam tahun 2014, 1.8% ke 1.6% untuk tahun 2015, dan menaikkan estimasi GDP 2016 dari 1.8% ke 1.9%.

Target Inflasi 2% Susah Dicapai

Saat ini, ECB tengah memantau laju inflasi yang ditargetkan untuk mengalami kenaikan di akhir tahun 2014. Strategi-strategi yang ditempuh ECB diharapkan akan memenuhi target inflasi 2%. Dalam hal ini, anggota dewan ECB sepakat untuk menjalankan komitmennya dalam melakukan tindakan yang diperlukan terkait masalah pemenuhan target inflasi tersebut. Namun, tidak semua anggota setuju untuk melakukan kebijakan yang tidak biasa jika mandat ECB ternyata gagal dilaksanakan. Sementara itu, detail pembelian ABS akan dijelaskan pada rapat ECB 2 Oktober mendatang.

Noyer: Euro Perlu Diturunkan Lagi

Di kesempatan lain, salah satu anggota ECB dan juga pimpinan Bank Sentral Prancis Christian Noyer mengutarakan bahwa nilai Euro perlu diturunkan lagi untuk mencapai target inflasi yang telah ditetapkan. Jika laju inflasi belum dapat menunjukkan hasil yang diharapkan, ECB berpeluang untuk kembali mengeluarkan kebijakan baru demi tercapainya target inflasi 2%. Ia juga menambahkan bahwa kepercayaan investor dan tenaga kerja perlu diturunkan ke level minimum agar pemulihan ekonomi berhasil.