KPF BALI- 12/09/14

Dolar AS mulai mendaki ke level tinggi di sesi Asia Jumat (12/09) pagi ini. Kencangnya spekulasi mengenai outlook kenaikan tingkat suku bunga AS menenggelamkan harga komoditas dan menjadikan perdagangan mata uang-mata uang ber-yield tinggi jadi tak terkendali.

us dollar
Munculnya anggapan bahwa kebijakan The Fed akan lebih hawkish di FOMC pekan depan membuat yield obligasi pemerintah AS terus naik secara stabil, sehingga menyuntikkan nyawa baru bagi Dolar AS.

Kembalinya volatilitas secara tiba-tiba ini mengembalikan minat terhadap carry trade, dimana orang-orang dapat meminjam dana dalam tingkat bunga rendah di Euro dan Yen untuk membeli aset-aset berimbal hasil lebih tinggi seperti mata uang komoditas atau mata uang negara berkembang. Akibatnya, mata uang komoditas seperti Dolar Canada dan Dolar Australia-lah yang menderita, dengan CAD yang tumbang ke level rendah 1.1059 dan Aussie yang jatuh ke level rendah di 0.9089.

Penguatan mata uang AS juga mendorong harga minyak ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Emas pun harus meleleh ke level rendah delapan bulan yang dimakmumi oleh tembaga yang menurun ke level rendah tiga bulan. Sebaliknya, menguatnya Dolar AS terhadap Yen memberikan efek positif bagi ekspor Jepang, pendapatan usaha, dan ekuitas.

Menanti Laporan Penjualan Retail AS

Data mengenai penjualan retail AS malam nanti tampaknya akan menambah ketidakpastian dalam spekulasi suku bunga The Fed. Para ekonom mengekspektasikan akan adanya rebound penjualan retail yang cukup solid, yakni hingga 0.6 persen pada bulan Agustus. Rebound tersebut akan menunjukkan kenaikan dari datarnya penjualan retail pada bulan Juli dan didorong oleh meledaknya penjualan mobil.

Data aktual penjualan retail AS yang tinggi akan memperkuat perkiraan bahwa The Fed bisa jadi makin hawkish. Namun jika penjualan retail nanti dilaporkan melemah, maka bisa memperluas pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga rendah hingga beberapa waktu yang cukup lama setelah tapering berakhir.