PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 22/11/2018 – Dolar AS melemah pada perdagangan hari Rabu (21/11) kemarin karena didukung oleh rebound bursa saham global sehingga meningkatkan kembali minat resiko di kalangan investor. Penguatan mata uang Euro terkait munculnya harapan penyelesaian masalah anggaran italia ikut membebani performa greenback.

 

Dolar AS Melemah Karena Risk Appetite

 

Pelemahan dolar AS masih terasa hingga sesi Asia pagi ini, berdasarkan indeks DXY yang saat ini berada di kisaran 96.70 atau sedikit merosot dari level tertinggi pekan ini pada 96.89 yang tersentuh pada perdagangan hari Selasa (20/11) lalu. Pelemahan greenback paling signifikan terhadap mata uang komoditas seperti dolar Australia, dolar NZ dan dolar Kanada.

Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto, mengatakan bahwa meskipun bursa saham mengalami rebound, namun secara keseluruhan risk appetite pasar tetap sangat rentan, terlebih setelah adanya beberapa false rebound dalam dua minggu terakhir.

 

Data Ekonomi AS Tidak Banyak Membantu

Rilis data ekonomi AS tadi malam seperti pesanan barang tahan lama inti yang meningkat tipis selama bulan Oktober tidak banyak membantu pergerakan greenback. Data lain seperti klaim pengangguran AS juga meningkat melewati ekspektasi, menunjukan warga Negeri Paman Sam yang mengajukan klaim tunjangan meningkat menuju level tertinggi lebih dari empat pekan terakhir.

Penjualan rumah AS sedikit meningkat di bulan Oktober dan menghentikan pelemahan enam bulan. Namun pasar properti AS belum sepenuhnya kokoh, Asosiasi Realtors Nasional meminta The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga karena dapat melukai trend penjualan rumah.

Schamotta mengatakan berbagai rilis data ekonomi baru baru ini menunjukkan kesenjangan kinerja AS dan negara ekonomi besar lain semakin menyempit memasuki musim dingin tahun ini. Laporan data ekonomi tersebut juga memberikan bukti terkuat bahwa dampak positif pemotongan pajak oleh Trump sebagian besar hanya bersifat sementara.