KPF BALI 17/06/16 – Bursa global masih bergoyang selepas kebijakan The Fed, BOJ dan Brexit yang memanas menjelang tanggal 23 Juni mendatang. Stoxx Europe 600 Index naik 1,4 persen pada 08:23 waktu London, sementara U.K. FTSE 100 Index naik 1 persen. MSCI Asia Pacific Index naik 0,6 persen, memangkas kerugian minggu ini sebesar sekitar 3 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,5 persen dan Jepang Topix menguat 0,8 persen, rebound dari level terendah empat bulan. Mata Uang Yen naik kurang dari 0,1 persen menjadi 104,20 per dolar, setelah sebelumnya turun sebanyak 0,6 persen. Menteri Keuangan Jepang Aso mengatakan kepada wartawan hari Jumat bahwa dia sangat prihatin dengan pergerakan mata uang saat ini yang seringkali mengejutkan dan sangat spekulatif. Hal ini disampaikan setelah mata uang melonjak 1,7 persen pada sesi terakhir setelah Bank of Japan menahan diri dari memperluas stimulus moneter. Yen naik setinggi 103,55 pada hari Kamis, level terkuat dalam hampir dua tahun. Pound menguat 0,5 persen, setelah menghapus penurunan lebih dari 1,3 persen pada sesi lalu menyusul pembunuhan Cox. The Bloomberg Dollar Spot Index, yang melacak greenback terhadap 10 mata uang utama, tergelincir 0,2 persen pada hari ketiga ditengah-tengah menguatnya mata uang Australia, Kanada dan Afrika Selatan yang naik 0,4 persen atau lebih, demikian juga dengan dengan logam dan minyak mentah. Komoditas Minyak mentah West Texas Intermediate naik 1,1 persen menjadi $ 46,70 per barel. Tembaga naik 0,8 persen di London, didukung oleh data Kamis yang menunjukkan logam Tiongkok untuk bulan Mei turun ke posisi terendah dalam setidaknya tiga bulan dikarenakan banyaknya smelter yang sedang masuk pemeliharaan rutin. Nikel dan seng naik lebih dari 1 persen. Emas untuk pengiriman segera naik 0,5 persen, setelah jatuh pada hari Kamis untuk pertama kalinya dalam tujuh hari. Harga minyak sawit di bursa berjangka naik sebanyak 1 persen di Kuala Lumpur setelah merosot selama sembilan hari, yang terburuk dalam satu decade. Jagung berjangka di Chicago naik 0,9 persen, dipengaruhi cuaca panas di wilayah tanam di AS. Imbal hasil obligasi Jepang dengan jatuh tempo 10-tahun turun untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, menjadi minus 0,15 persen setelah BOJ memperkirakan inflasi akan mencapai nol atau bahkan negatif. Tingkat pengembalian obligasi dengan jatuh tempo yang sama di Australia naik delapan basis poin menjadi 2,09 persen, setelah merosot di bawah 2 persen untuk pertama kalinya pada hari Kamis kemarin. Untuk imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman turun mendekati nol, dari minus 0,02 persen