PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 09/09/16 – Bursa Asia menguat ke level tertinggi dalam satu tahun pada perdagangan saham Rabu pekan ini. Hal itu seiring data aktivitas sektor jasa Amerika Serikat (AS) secara mengejutkan melemah.

Katalis itu membuat spekulasi kalau peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau the Federal Reserve tipis pada awal bulan ini. Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,4 persen.

Sementara itu, indeks saham Jepang Nikkei turun 1 persen seiring yen menguat tajam terhadap dolar AS. Sedangkan indeks saham Australia, Selandia Baru dan Korea Selatan masing-masing naik 0,2 persen.

Rilis data ekonomi AS mempengaruhi laju bursa Asia. Data indeks aktivitas non manufaktur jatuh ke 51,4, dan itu termasuk level terendah sejak Februari 2010. Sedangkan bulan lalu, indeks aktivitas non manufaktur itu berada di level 55,5.

Mengingat kondisi sektor jasa melambat ketimbang manufaktur dinilai menjadi pukulan bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga secepat mungkin. “The Fed sekarang akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini,” ujar Shuji Shirota, Ekonom HSBC, seperti dikutip dari laman Reuters, Rabu (7/9/2016).

Sebelumnya komentar pejabat bank sentral AS pada pekan lalu cenderung agresif. Ada rencana untuk menaikkan suku bunga secepat mungkin. Namun investor melihat kalau hal itu belum akan terjadi mengingat laporan penciptaan tenaga kerja dan gaji lebih lemah dari perkiraan pelaku pasar.

“Pernyataan pejabat the Fed mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan tentang kemungkinan kenaikan suku bunga,” tambah Shirota.

Di pasar komoditas, harga emas reli ke level tertinggi dalam tiga minggu. Harga emas ke level US$ 1.352,4 per ounce. Sedangkan harga minyak sedikit berubah. Harga minyak jenis Brent ke level US$ 47,24 per barel.