PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 05/09/16 –  Harga minyak mentah berbalik melemah di Asia pada Senin dalam perdagangan dengan data yang sedikit. Amerika Serikat dan Kanada libur hari buruh serta menunggu komentar dari pertemuan G20 di China untuk mengamati isyarat permintaan terhadap minyak.

Di Bursa Perdagangan New York, minyak mentah untuk pengiriman Oktober merosot 0,07% menjadi $44,12 per barel. Di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November anjlok 0,81% menjadi $46,45 per barel.

Dalam seminggu ke depan, pedagang minyak akan fokus ke data persediaan AS pada hari Rabu dan Kamis atas sinyal permintaan dan penawaran baru. Laporan tersebut datang satu hari kemudian dari biasanya karena Hari Libur Buruh, Senin.

Pekan lalu, minyak berjangka mengakhiri pelemahan beruntun empat hari pada hari Jumat, di tengah komentar Rusia yang mendukung pembekuan produksi, tapi minyak masih mengalami penurunan besar dan kuat dalam seminggu di tengah kekhawatiran atas melimpahnya pasokan global.

Pedagang juga menilai kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve bulan ini, menyusul lemahnya data upah non-pertanian daripada perkiraan.

Harga minyak menguat pada hari Jumat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, bahwa kesepakatan antar eksportir minyak utama untuk membekukan produksi akan menjadi keputusan yang tepat dalam mendukung pasar.

Komentarnya diikuti retorika serupa dari menteri luar negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, yang dilaporkan mengatakan pada hari Kamis bahwa perjanjian produksi semacam itu dapat dibuat antara OPEC dan produsen non-OPEC pada pertemuan bulan ini.

Anggota OPEC dijadwalkan untuk membahas potensi pemangkasan produksi pada pertemuan informal di sela-sela sebuah konferensi energi di Aljazair antara 26-28September.

Meskipun dalam pernyataan mendukung tersebut, bahwa kemungkinan minimal pertemuan mendatang pada akhir September akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi banjirnya pasokan global yang muncul, menurut para ahli pasar. Sebaliknya, kebanyakan analis percaya bahwa produsen minyak akan terus memantau pasar dan mungkin menunda pembicaraan pembekuan dalam pertemuan resmi OPEC di Wina pada 30 November.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik dalam menggabungkan konsensus.

Sementara itu, pelaku pasar terus fokus terhadap prospek pengeboran AS, di tengah indikasi pemulihan yang terjadi baru-baru ini dalam kegiatan pengeboran. Penyedia jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan Jumat malam bahwa jumlah pengeboran sumur minyak di AS minggu lalu naik 1 menjadi 407, menandai kenaikan kesembilan kalinya dalam 10 minggu.

Beberapa analis telah memperingatkan bahwa reli harga yang baru-baru ini terjadi bisa merugikan diri sendiri, karena mendorong produsen shale AS untuk mengebor lebih banyak, menggarisbawahi kekhawatiran atas kelebihan pasokan global.