PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 30/01/2017 – Dana asing tampak mulai kembali ke pasar saham. Pekan lalu, investor asing mencetak beli bersih (net buy) Rp 732 miliar.

Nilai tersebut lebih baik dibandingkan pekan sebelumnya dengan net sell Rp 438 miliar. Investor asing masih mencetak jual bersih (net sell) Rp 863,70 miliar sejak awal tahun.

Tapi, angka ini jauh lebih baik ketimbang awal tahun 2016. Sepanjang Januari 2016, investor asing mencatatkan jual bersih Rp 2,32 triliun.

Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas, mengatakan, investor asing saat ini cenderung mengambil posisi trading jangka pendek di saham-saham blue chips, sembari menunggu rilis laporan keuangan emiten 2016.

“Pekan lalu, mulai ada net buy karena memanfaatkan pelemahan IHSG yang terjadi jelang pelantikan Trump,” kata Reza pada KONTAN, Minggu (29/1).

William Surya Wijaya, Kepala Riset Asjaya Indosurya Securities, juga yakin rilis laporan keuangan 2016 akan membuat investor asing kembali berinvestasi. Ia yakin rata-rata kinerja emiten positif. Di sisi lain, pengaruh investor domestik pada perdagangan bursa sepanjang Januari meningkat.

Menurut William, hal ini karena kepercayaan investor terhadap ekonomi dalam negeri juga masih kuat. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, pekan lalu kepemilikan saham oleh investor domestik mencapai 45,88%.

Jumlah ini menjadi persentase investor domestik tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Sebelumnya, di 2012, kepemilikan saham investor domestik pernah mencapai 41,2%.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Heldy Arifien mengatakan, kondisi pasar saham saat ini masih cenderung sepi. “Adanya sentimen Trumponomic dan likuiditas asing yang mulai berkurang membuat investor domestik yang dominan,” jelas Heldy.

Reza yakin investor asing masih akan membukukan net buy di akhir tahun nanti. Indeks saham AS dan Eropa yang cenderung menguat akan berimbas positif pada laju IHSG. Apalagi, nilai tukar rupiah juga mulai menguat.

Tapi, volatilitas pasar akan berkurang. “Kalau belum ada sentimen penggerak yang kuat, asing akan cenderung mengambil posisi jangka pendek,” imbuh Reza.

William menilai, saham-saham infrastruktur dan komoditas masih akan jadi primadona tahun ini. Ia juga melihat ada perbaikan di saham sektor konsumer.