PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 03/12/2018 – China diberi waktu selama tiga bulan oleh AS untuk mengubah kebijakan perdagangan. Jika hingga musim semi 2019 belum ada reformasi hubungan dagang yang dilakukan, maka Trump siap melakukan kenaikan tarif tambahan untuk barang-barang China. Kesepakatan tersebut tercapai setelah pertemuan Trump dan Xi Jinping di Argentina.

“Ini adalah pertemuan yang luar biasa dan produktif dengan kemungkinan tidak terbatas bagi AS dan China. Merupakan sebuah kehormatan bagi saya untuk berkerja dengan Presiden Xi”, kata Trump.

Trump dan Xi Jinping

PT KONTAK PERKASA

Selama pertemuan yang berlangsung dua setengah jam antara kedua belah pihak, Presiden Trump setuju untuk menunda kenaikan tarif terhitung mulai 1 Januari mendatang. Sebagai gantinya, Gedung Putih mengatakan bahwa China harus menyetujui beberapa ketentuan untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan antara kedua negara, mengingat selama ini AS selalu dirugikan.

Kesepakatan tersebut berarti China diharuskan membeli produk-produk AS seperti yang dari sektor pertanian, energi, dan industri. Di samping itu, persetujuan ini juga akan menyelesaikan masalah lain, seperti perlindungan hak kekayaan intelektual hingga pencurian cyber yang selama ini dituduhkan AS terhadap China.

 

Mata Uang Komoditas Melambung

Penundaan kenaikan tarif oleh AS terhadap barang-barang China membawa sentimen positif bagi mata uang komoditas, seperti Dolar Australia dan Dolar NZ. Kedua mata uang tersebut naik pesat terhadap Dolar AS di pembukaan perdagangan Sydney pagi ini (3/12). Pair AUD/USD menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Agustus 2018. Saat berita ini di-update pada pukul 09:12 WIB, pasangan mata uang tersebut sudah berada di kisaran 0.7356.

AUD/USD - 3 Desember 2018

Namun, pendapat lain mengenai penguatan Dolar Komoditas datang dari Joseph Capurso, Ahli Strategi Mata Uang Senior di Commonwealth Bank. Ia merasa skeptis bahwa pergerakan AUD yang terlihat di pagi ini bisa menjadi awal tren yang berlangsung lama.