PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 15/03/2019 – Pasar keuangan Indonesia masih bergerak berlawanan pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat lumayan signifikan, sementara nilai tukar rupiah terkoreksi tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Kemarin, IHSG ditutup naik 0,56%. Bursa saham utama Asia berakhir variatif di mana indeks Nikkei 225 turun 0,01%, Hang Seng naik 0,15%, Shanghai Composite anjlok 1,2%, Kospi menguat 0,34%, dan Straits TImes bertambah 0,07%.

KONTAK PERKASA

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tipis 0,01% kala penutupan perdagangan pasar spot. Seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS, tidak ada pengecualian. Bahkan depresiasi 0,01% sudah menjadikan rupiah sebagai mata uang terbaik di Asia.

Ada risiko yang tidak bisa dinafikan sehingga membuat investor sedikit banyak memilih bermain aman. Pertama, rilis ekonomi China yang kurang moncer.  Pada Januari-Februari 2019, output industri naik 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lebih lambat dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang memperkirakan pertumbuhan 5,5%. Ini juga menjadi laju paling lemah sejak 2002.

China adalah perekonomian terbesar di Asia, sang kepala naga. Kala kepala naga terjun ke air, maka seluruh tubuhnya lambat laun akan ikut terseret ke dalam air.

Oleh karena itu, apa yang terjadi di China akan sangat menentukan nasib satu benua. Ketika ada masalah di China, pelaku pasar akan cenderung menjauh dari Asia.

Alasan kedua, masih ada risiko damai dagang AS-China bisa batal. Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak akan terburu-buru untuk membuat kesepakatan dagang dengan China.

“(Perundingan) memang berjalan lancar, kita lihat saja kapan nanti tanggalnya (untuk membuat kesepakatan). Saya tidak buru-buru, akan bagus jika kita bisa mencapai kesepakatan yang baik. Kesepakatan itu harus menguntungkan kami, dan jika tidak maka kami tidak akan membuatnya.

“Saya rasa Presiden Xi (Xi Jinping, Presiden China) tahu bahwa saya adalah tipe orang yang bisa pergi saat kesepakatan belum terjadi. Anda tahu selalu ada kemungkinan ke arah sana, dan beliau tentu tidak menginginkan itu,” jelas Trump, mengutip Reuters.

Gertakan Trump ini bisa membuat pasar cemas. Jangan-jangan Trump akan ngambek dan memilih walk-out seperti saat berdialog dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un di Vietnam akhir bulan lalu.

Jika ini yang terjadi, maka ucapkanlah selamat tinggal kepada damai dagang AS-China. Malah bisa saja Washington dan Beijing kembali terlibat perang dagang, saling berlomba menaikkan bea masuk yang dampaknya menghambat arus perdagangan dan rantai pasok global.

Namun ada sentimen positif dari perkembangan Brexit, di mana parlemen Inggris menolak adanya No Deal Brexit (inggris tidak mendapat kompensasi apa-apa dari perceraian dengan Uni Eropa) dalam kondisi apapun. Perkembangan ini sedikit banyak meredakan kekhawatiran investor, karena ada peluang Brexit bisa ditunda dan London bisa berpisah baik-baik dengan Brussel.

Tarik-menarik sentimen negatif dan positif ini membuat pasar keuangan Asia bergerak mixed.Kegalauan memang tengah mewarnai pasar keuangan Benua Kuning.

Wall Street Galau

Dari Wall Street, tiga indeks utama berakhir variatif dalam rentang terbatas. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,03%, S&P 500 turun 0,09%, dan Nasdaq Composite melemah 0,16%.

Seperti di Asia, bursa saham New York galau gara-gara prospek damai dagang AS-China yang tidak jelas. Perkembangan terbaru, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengungkapkan ternyata masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

“Kami bekerja keras untuk mencapai kesepakatan secepat mungkin. Ada dokumen lebih dari 150 halaman yang sedang kami kerjakan. Masih banyak pekerjaan, tetapi kami senang dengan perkembangan yang terjadi sampai saat ini,” kata Mnuchin mengutip Reuters.
Seorang sumber mengungkapkan kepada Reuters, kemungkinan tidak akan ada pertemuan Trump-Xi pada akhir bulan ini untuk finalisasi dan pengesahan perjanjian damai dagang. Sepertinya pertemuan itu diundur menjadi akhir April.
Apalagi ada rilis data ekonomi yang kurang memuaskan. Penjualan rumah baru ada Januari tercatat sebanyak 607.000 unit atau turun 6,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jauh lebih buruk ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang memperkirakan penurunan 0,6%.
Namun Wall Street tidak jatuh terlalu dalam karena ada dinamika terbaru sepuat Brexit. Dalam voting di parlemen Inggris (lagi-lagi voting), parlemen memutuskan sepakat menunda Brexit. Hasil akhirnya adalah 412 berbanding 202.
Sedianya Brexit akan terjadi pada 29 Maret. Namun parlemen meminta extra time jika tidak ada kesepakatan sampai 20 Maret. Inggris meminta perpanjangan waktu setidaknya sampai 30 Juni.

Kesepakatan damai dagang AS-China yang maju-mundur, data penjualan rumah yang mengecewakan, dan dinamika Brexit ini membuat investor gamang. Tidak adanya kepastian membuat pelaku pasar memilih untuk wait and see, tidak ada perilaku agresif.

Terlihat dari volume perdagangan hari ini yang hanya melibatkan 6,69 miliar unit saham. Cukup jauh dibandingkan rata-rata selama 20 hari terakhir yaitu 7,37 miliar.

smber : cnbcnews