PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI  26/11/2018 – Setiap beberapa bulan sekali, dirilis sejumlah laporan sensasional mengenai bagaimana USD akan kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan dunia dan digantikan dengan EUR, JPY, Yuan China, atau salah satu dari berbagai mata yang kripto yang beredar di jaringan siber.

Laporan-laporan ini biasanya didahului oleh satu periode kelemahan teknikal pada USD, sebagaimana kita saksikan selama dua pekan terakhir.

Versi terbaru berpusat pada rencana China dan Rusia untuk mematahkan sistem pembayaran SWIFT Amerika Serikat untuk transaksi ekspor minyak mentah Iran dan Rusia dengan pembayaran dalam Yuan China. Ide utamanya, importir minyak lainnya akan mengikuti, sehingga bisa mengeliminasi kebutuhan akan USD di pasar minyak mentah secara metodis.

Sebagaimana kebanyakan teori anti-USD lainnya, pandangan itu nampak bagus bagi trader forex secara teoritis. Namun demikian, pendapat ini mengabaikan realita bahwa terlepas dari masifnya skala perdagangan minyak mentah, sistem pembayaran untuk minyak mencakup kurang dari 2 persen dari total turnover harian SWIFT USD.

Jadi, bagaimana USD menjadi mata uang cadangan devisa global dan seberapa kokoh statusnya?

Sudah disetujui secara luas bahwa USD menggantikan Sterling sebagai mata uang cadangan devisa utama Dunia pada konferensi Bretton Woods pada 1944. Pada saat itu, Inggris dan sebagian besar Eropa masih berusaha pulih dari Perang Dunia 2, Jepang telah dihancurkan, dan China masih di tengah perang saudara. Sebaliknya, USA berada pada posisi kuat, baik dalam kapasitas manufaktur dan militer.

Definisi sederhana dari sebuah mata uang cadangan devisa adalah unit moneter yang paling banyak disimpan oleh semua bank sentral. Mata uang itu disebut cadangan devisa karena diterima begitu saja sebagai alat pembayaran dalam perdagangan internasional dan transaksi aset kapital. Menurut laporan awal tahun ini dari Bank of International Settlements (BIS), USD mewakili sekitar 60 persen dari total cadangan devisa yang dipegang oleh bank-bank sentral global.

Di sisi lain, ACY mencatat, EUR mencakup sekitar 20 persen. Sebanyak 20 persen sisanya adalah dalam denominasi GBP, JPY, AUD, dan CHF. Yuan China mencakup kurang dari 2 persen.

Dengan memahami posisi dominan USD dalam komposisi matriks cadangan devisa global, maka mudah untuk mengabaikan peringatan mengenai kolapsnya USD dan hilangnya statusnya sebagai cadangan devisa utama yang keluar secara periodik. Berdasarkan data BIS, prosesnya akan memakan waktu bertahun-tahun, jika bukannya berdekade-dekade, sebelum USD dapat digantikan.

Berdasarkan pertimbangan ini, ACY masih yakin bahwa hegemoni USD dan selisih suku bunga akan membuat USD meraih kembali kekuatan bullish-nya dan reli memasuki akhir tahun ini dan awal 2019.

Data yang akan menjadi sorotan sesi Eropa adalah rilis data PMI Jerman dan Prancis. Trader akan berfokus pada apakah kelemahan di kuartal III akan berlanjut hingga kuartal IV.

Sekali lagi, AUD/USD bertemu dengan resisten di atas area 0.7300, dan telah membentuk pola Double Top dekat 0.7325. Indikator momentum internal kini bergerak dengan RSI pada 54 dan mengarah ke bawah.

PT KONTAK PERKASA